Kamis, 28 Maret 2013

• Ekologi budaya merupakan suatu kerangka teoritik yang memberi perhatian pada adaptasi yang berkaitan dengan cara sistem budaya beradaptasi dengan lingkungannya secara total, dan cara institusi-institusi dalam suatu budaya beradaptasi atau saling menyesuaikan diri. • Dengan demikian, seorang ekolog budaya akan mampu melihat cara kemunculan, pemeliharaan, dan transformasi berbagai konfigurasi budaya • Selama ini, pemahaman ekologi budaya selalu menekankan aspek teknologi dan ilmu ekonomi dalam analisi mereka terhadap adaptasi budaya, karena dipandang lebih mudah menemukan perbedaan diantara masing-masing budaya. • Memang, suatu filsafat moral mampu bertahan hingga 2000 tahun, sementara suatu teknologi yang berlaku pada 2000 tahun lalu membutuhkan suatu transformasi total dan panjang dalam cara hidup kita. • Selain variable teknologi dan ekonomi, terdapat variable lain yang juga sangat menentukan. Leslie White menyebutkan factor ideology dan sosio-politik. Eric Wolf menambahkannya dengan faktor psikologis dan sosial dengan mengambil contoh komunitas petani korporasi tertutup (budaya kemiskinan, keabadian defensif, kecemburuan institusional, dan mekanisme penyamarataan seperti yang terjadi pada sistem politik religius). • Charles O. Frake memberikan pemahaman terhadap faktor konseptualisasi dan tafsir pribumi mengenai lingkungan (termasuk faktor ideologis dan psikologis). • Vayda, Leeds, Smith, dan dilanjutkan dengan Rappaport, mengungkapkan bahwa kegiatan religius dan seremonial mempunyai makna adaptasi yang penting. • Sedangkan Robert Edgerton melihat adanya hubungan kepribadian dengan ekologi budaya. • Konsep lingkungan (environment) disama-artikan dengan ciri-ciri atau hal-hal menonjol yang menandai habitat alami: cuaca, flora dan fauna, pola hujan, dan bahkan keberadaan mineral di bawah tanah. • Menurut Edmund Leach: Lingkungan bukanlah benda alami; ia merupakan seperangkat pemahaman, suatu produk kebudayaan … Pertanyaan mengenai ”lingkungan itu apa”, tidak dapat dipecahkan secara objektif, karena ini adalah soal persepsi. Hubungan suatu masyarakat dengan lingkungannya hanya dapat dipahami, bila kita mengamati cara pengorganisasian lingkungan itu dalam kategori-kategori verbal, yang disusun oleh mereka yang menggunakannya. • Lingkungan efektif berbeda dengan lingkungan alami. Lingkungan efektif merupakan lingkungan yang telah dikonseptualisasikan oleh manusia dengan berpedoman atau berpijak pada pertumbuhan budaya yang dibangunnya. Sedangan lingkungan alami terbentuk melalui perkembangan struktur alam secara apa adanya. • Menurut Bates: Gagasan tentang lingkungan sudah jelas dan tegas; ia meliputi keadaan sekitar (surroundings) yang merupakan latar suatu organisme; ia adalah jumlah kekuatan-kekuatan dari luar yang bertindak atau berbuat terhadap organisme itu. Yang terakhir itu untuk membedakan lingkungan dengan kekuatan yang muncul dari dalam, yakni sifat-hakikat organisme itu sendiri. Ringkasan Ekologi budaya tidak hanya membicarakan interaksi bentuk-bentuk kehidupan dalam ekosistem tertentu, tetapi juga membahas cara manusia (berkat budaya sebagai sarananya) memanipulasi dan membentuk ekosistem itu sendiri. Manusia memang sangat berbeda dengan makhluk yang lebih rendah (infrahuman) cara hidupnya. Karena manusia lebih mampu mengadaptasi lingkungannya terhadap dirinya sendiri. Begitu pula dengan konsep adaptasi dalam biologi dan budaya. Dalam biologi, kemampuan untuk bertahan dan mampu beradaptasi dilihat dari hasil yang dicapai dalam proses reproduksi atau perkembangbiakannya. Sedangkan dalam budaya dapat dilihat dari aspek sirkularitas atau aspek sebab akibat atau ketimbalbalikan atau adanya umpan balik dari hubungan kehidupan budaya tersebut dengan lingkungannya. Topik Diskusi 1. Cobalah perhatikan kehidupan suatu budaya di daerah anda. Bagaimana budaya itu dapat berkembang, dan tantangan apa yang dihadapi oleh budaya itu? 2. Perhatikanlah hubungan ekonomi dan teknologi yang dipilih oleh suatu kehidupan budaya. Aspek apakah yang menonjol dari cara manusia di lingkungan budaya itu memilih cara hidupnya. Jelaskanlah aspek-aspek itu dengan menyebutkan contoh-contoh praksisnya. 3. Apa pendapat anda, tentang saling pengaruh antara lingkungan dan budaya, dan bagaimana adaptasi dilakukan dalam lingkungan dan budaya Sumber Bacaan: David Kaplan dan Albert A. Manners, 1999, Teori Budaya (The Theory of Culture), terjemahan Landung Simatupang, pengantar Dr. PM Laksono, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 109-122

Kamis, 14 Maret 2013

Jenis Jenis Kritik Sastra

Menurut bantuknya Kritik sastra menurut bentuknya dapat digolongkan menjadi kritik teori (thoeritical criticism), dan kritik terapan (applied criticism). Kritik teori adalah bidang kritik sastra yang bekerja untuk menerapkan istilah-istilah, kategori-kategori dan kriteria-kriteria untuk diterapkan dalam pertimbangan dan interprestasi karya sastra, yang dengannya karya sastra dan para sastrawannya dinilai. Adapun kritik terapan adalah pelaksanaan dalam penerapan teori-teori kritik sastra sastra baik secara eksplisit, maupun implisit. Menurut pelaksanaannya Menurut pelaksanaanya kritik sastra terbagi atas kritik judisial (judicial criticism) dan impresionistik (impressionistic criticism). Kritik judisial adalah kritik sastra yang melakukan analisis, interprestasi, dan penilaiannya berdasarkan ukuran-ukuran, hukum-hukum dan standar-standar tertentu. Kritikus judisal melakukan kritik sastra berdasarkan ukuran-ukuran tersebut. Jenis sifatnya deduktif. Dapat dikatakan kritik ini merupakan kebalikan dari kritik yang sifatnya induktif. Dalam kritik yang induktif, seorang kritikus tidak menerapkan standar-standar tertentu dalam mengkritik karya sastra. Ia berangkat dari fenomena yang ada dalam karya sastra itu secara objektif. Sedangkan kritik impresionik adalah kritik yang dibuat kritikus dengan mengemukakan kesan-kesan kritikus tentang objek kritiknya, tanggapan-tanggapan tentang kara sastra itu berdasarkan apa yang dirasakan kritikus tersebut. Dalam kritik yang impresionik, seorang kritikus menggunakan tafsiran untuk mengagumkan pembaca. Dalam kritik jenis ini kritikus jarang menggunakan penilaian. Menurut orientasi kritik Abram (David Logde, 1972:5-21) membagi jenis kritik berdasarkan orientasinya, yaitu kritik mimetik, kritik ekspresif, kritik pragmatik dan kritik objektif. 1. Kritik mimetik adalah kritik yang memandang karya sastra sebagai pencerminan kenyataan kehidupan manusia. Menurut Abrams, kritikus pada jenis ini memandang karya sastra sebagai tiruan aspek-aspek alam. Sastra merupakan pencerminan/penggambaran dunia kehidupan. Sehingga kriteria yang digunakan kritikus sejauh mana karya sastra mampu menggambarkan objek yang sebenarnya. Semakin jelas karya sastra menggambarkan realita semakin baguslah karya sastra itu. Kritik jenis ini jelas dipengaruhi oleh paham Aristoteles dan Plato yang menyatakan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan. 2. Kritik ekspresif adalah kritik sastra yang memandang karya sastra sebagai ekspresi, curahan perasaan, atau imajinasi pengarang. Kritik ekspresif menitikberatkan pada pengarang. Kritikus ekspresif meyakini bahwa sastrawan (pengarang) karya sastra merupakan unsur pokok yang melahirkan pikiran-pikiran, persepsi-persepsi dan perasaan yang dikombinasikan dalam karya sastra. Kritikus dalam hal ini cenderung menimba karya sastra berdasarkan kemulusan, kesejatian, kecocokan pengelihatan mata batin pengarang/keadaan pikirannya. Pendekatan ini sering mencari fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang sadar/tidak, telah membuka dirinya dalam karyanya. 3. Kritik pragmatik memandang karya sastra sebagai sesuatu yang dibangun untuk mencapai efek-efek tertentu pada audien (pendengar dan pembaca), baik berupa efek kesenangan, estetis, pendidikan maupun efek lainnya. Kritik ini cenderung menilai karya sastra menurut berhasil tidaknya karya tersebut mencapai tujuan tersebut (Pradopo, 199:26). Kritik ini memandang karya sastra sebagai sesuatau yang dibangun untuk mencapai efek-efek tertentu pada audien (pendengar dan pembaca), baik berupa efek kesenangan, estetis, pendidikan maupun efek lainnya. Sementara tujuan karya sastra pada umumnya: edukatif, estetis, atau politis. Dengan kata lain, kritik ini cenderung menilai karya sastra atas keberhasilannya mencapai tujuan. Ada yang berpendapat, bahwa kritik jenis ini lebih bergantung pada pembacanya (reseptif). Kritik jenis ini berkembang pada Angkatan Balai Pustaka. Sutan Takdir Alisjabana pernah menulis kritik jenis ini yang dibukukan dengan judul “Perjuangan dan Tanggung Jawab” dalam Kesusastraan. 4. Kritik objektif memandang karya satra hendaknya tidak dikaitkan dengan hal-hal di luar karya sastra itu. Ia harus dipandang dsebagai teks yang utuh dan otonom, bebas dari hal-hal yang melatarbelakanginya, seperti pengarang, kenyataan, maupun pembaca. Objek kritik adalah teks satra: unsur-unsur interinsik karya tersebut. Menurut objek kritik Karya sastra terdiri atas beragam jenis, yaitu puisi, prosa dan drama. Artinya, kritik sastra dapat menjadikan puisi, puisi, prosa atau drama sebagai objeknya. Dengan demikain, jenis kritik ini dapat dibagi lagi menjadi berdasarkan objeknya, yakni kritik puisi, kritik prosa, kritik drama. Selain itu, kritik satra itu sendiri dapat dijadikan kritik sehingga dinamakan kritik atas kritik. Karya sastra merupakan sebuah keseluruhan yang mencakupi dirinya, tersusun dari bagian-bagian yang saling berjalinan erat secara batiniah dan mengehendaki pertimbangan dan analitis dengan kriteria-kriteria intrinsik berdasarkan keberadaan (kompleksitas, koherensi, keseimbangan, integritas, dan saling berhubungan antarunsur-unsur pembentuknya. Jadi, unsur intrinsik (objektif)) tidak hanya terbatas pada alur, tema, tokoh, dsb; tetapi juga mencakup kompleksitas, koherensi, kesinambungan, integritas, dsb. Pendekatan kritik sastra jenis ini menitikberatkan pada karya-karya itu sendiri. Kritik jenis ini mulai berkembang sejak tahun 20-an dan melahirkan teori-teori: 1. New Critics (Kritikus Baru di AS) 2. Kritikus formalis di Eropa 3. Para strukturalis Perancis Menurut sifatnya Dalam dunia kritik sastra sering terjadi pertentang antara kritik sastra yang ditulis kalangan akademik dan nonakademik. Hal ini misalnya terlihat pada polemik antara kritikus sastra yang mengusung apa yang dinamakan metode Ganzheit dengan tokoh antara lain Goenawan Mohamad dan Arif Budiman versus kritikus sastra yang kemudian diistilahkan dengan aliran Rawamangun dengan tokoh-tokohnya antaralain M.S Hutagalung. Dapat dikatakan kritik aliran Rawamangun mewakili jenis kritik sasta kalangan akademik. Sedangkan kritik sasta aliran Ganzheti mewakili kalangan nonakdemik. Ada perbedaan antara dua kritik sastra dua liran tersebut. Kritik sastra nonakemik tidak terpaku pada format seperti yang terdapat pada petunjuk Tekhnik Penulisan Ilmiah; teori dan metode sastra meskipun digunakan ─ tidak diekspilitkan, dan menggunakan bahasa ilmiah populer. Jenis-jenis tulisannya berupa esai dan artikel yang dipublikasikan lewat koran, majalah, atau buku-buku yang merupakan kumpulan kritik sastra. Para penulisnya umumnya sastrawan, wartawan atau kalangan umum yang tertarik mendalam dunia sastra. (Perkuliahan) http://sigodangpos.blogspot.com/2011/09/jenis-jenis-kritik-sastra-dan.html

Sabtu, 24 Maret 2012

MASA DEPAN DEWAN KESENIAN

Oleh Autar Abdillah

Pertanyaan mendasar ketika seseorang memasuki arena Dewan Kesenian adalah Mengapa Dewan Kesenian (harus) ada? Untuk menjawabnya, seseorang dapat (selalu) menggunakan sejumlah kategori, terutama kategori historis, filosofis maupun sosial.
Secara historis, Dewan Kesenian lahir pertamakali di ibukota Negara, Jakarta (17 Juni 1969) sebagai bentuk kepedulian seniman dalam menuntaskan keberadaan karya-karya seni yang dihasilkan. Ketuntasan disini membawa makna khusus bahwa setiap karya seni tidak hanya dinikmati oleh seniman semata, tetapi ada publik yang juga layak melakukan apresiasi. Dalam konteks seperti ini, melahirkan suatu karya seni bukanlah perkara mudah, butuh proses. Seniman harus melakukan dan menempatkan posisinya pada kedudukan yang khusus. Artinya, karya seni lahir dari seniman yang telah melewati berbagai batu ujian penting dalam proses berkaryanya. Pada era ini, perjuangan dan militansi berkarya menjadi penting, sehingga seniman disejajarkan dengan aktivitas intelektual lainnya.
Pada tingkat kedua (era 1980-an atau era Umar Kayam), Dewan Kesenian lahir sebagai manifestasi diperlukannya penghubung antara karya seni dan senimannya dengan para maecenas kesenian. Pada awalnya, pembicaraan tentang maecenas ini ditabukan oleh sejumlah seniman. Karena, karya seni dipandang sesuatu yang sangat sakral: dari proses yang panjang dan “berdarah-darah” (sebuah istilah yang selalu digunakan untuk menunjukkan bahwa karya seni lahir dari perjuangan yang sangat gigih dan keras). Pada tingkat ketiga, Dewan Kesenian menjadi mitra pemerintah dalam menumbuhkan dan memajukan kesenian di suatu daerah.
Jawaban yang sangat filosofis juga cukup menarik, bahwa Dewan Kesenian dapat turut serta memajukan pertumbuhan kesenian di suatu daerah. Sedemikian mulianya, dan pada posisi inipun menjadi sangat strategis, sehingga Dewan Kesenian menjadi penentu penting suatu kebijakan kesenian di suatu daerah. Dewan Kesenian membangun pemaknaan sekaligus pencitraan bagi kesenian yang dilahirkan para seniman, agar mampu diapresiasi secara utuh dan berdayaguna. Di samping itu, Dewan Kesenian juga harus mampu meningkatkan posisi tawar kesenian dengan seluruh komponen yang tumbuh dilingkungan kesenian tersebut.
Yang terakhir adalah kategori sosial, yakni Dewan Kesenian benar-benar menjadi bagian yang integral dengan masyarakatnya, bukan saja masyarakat kesenian, tapi seluruh komponen masyarakat yang mungkin terlibat dalam kesenian. Dewan Kesenian bukan saja melakukan sosialisasi kesenian, tapi juga membangun interaksi yang dinamis dengan masyarakatnya. Di samping itu, juga melakukan interaksi dengan institusi-institusi sosial maupun politik secara intensif.
Strategi Baru
Dewan Kesenian sebagai produk Orde Baru (ORBA) adalah sebuah kenyataan sejarah. Sebagai produk ORBA, tentu Dewan Kesenian membawa dengan sendirinya seluruh atau sebagian pola yang dibangun dalam pentas politik ORBA untuk memosisikan kesenian. Artinya, Dewan Kesenian belum benar-benar memiliki posisi tawar yang memadai jika berhadapan dengan strategi pembangun maupun pola kebijakan yang dibangun oleh suatu daerah. Akibatnya, dibutuhkan “the second hand” untuk menentukan pola kebijakan kesenian yang diinginkan atau dikehendaki komunitas kesenian. Menuju langkah ke depan dalam memandang masa depan Dewan Kesenian perlu dirumuskan kembali secara menyeluruh, baik melalui pemetaan yang faktual maupun melalui komunikasi langsung dengan publik kesenian itu sendiri.
Transformasi strategis dalam Dewan Kesenian perlu dipetakan kembali. Beberapa point pentingnya adalah 1) mengubah mindset teknokratis dan birokratis menuju mekanisme demokratis dalam penentuan hajat berkesenian, sehingga melahirkan pola yang lebih partisipatoris. Pola ini memungkinkan semua komponen kesenian melibatkan diri secara sukarela dalam berkesenian. 2) meminimalkan makna tunggal berkesenian yang tumbuh melalui pemusatan aktivitas kesenian yang dimungkinkan oleh adanya Dewan Kesenian. Dimanapun keberadaan Dewan Kesenian, lembaga ini tiba-tiba menjadi satu-satunya lembaga yang bisa melakukan komunikasi vertikal maupun horizontal dengan pemerintah daerah, sekaligus dengan publik keseniannya. 3) mereposisi struktur organik yang cenderung melemahkan posisi seniman dan aktivitas kesenian.
Ketiga transformasi strategis diatas merupakan starting point untuk memulai langkah ke depan Dewan Kesenian yang memungkinnnya bias berkomunikasi dengan nyaman dengan publik kesenian. Masa depan Dewan Kesenian ditentukan oleh bagaimana Dewan Kesenian mampu meluruskan jalan bagi terbangunnya komunikasi yang dinamis dan konstruktif bagi publik kesenian. Publik kesenian merupakan mata air yang sebaiknya selalu diberikan jalan menuju muara yang sejalan dengan seluruh kemungkinan aktivitas kesenian itu tumbuh dan berkembang.
Masa depan Dewan Kesenian adalah masa depan Kesenian dan Publiknya. Masa depan Dewan Kesenian adalah masa depan kebudayaan yang lahir dari tangan-tangan bersahaja menuju pembentukan makna kemanusiaan yang diharapkan bersama. Akhirnya, masa depan Dewan Kesenian adalah membangun makna relasional seluruh kebudayaan yang dilahirkan masyarakatnya. Selamat beraktivitas di Dewan Kesenian kabupaten Sidoarjo.

Selasa, 03 Januari 2012

Kultur Arek

Oleh Autar Abdillah

Arek adalah sintesis perjuangan. Sebuah karakter yang berkodefikasi kultural. Tapi bukan etnosentristik. Terbentuk dari alam yang keras, penuh bencana dan berkontribusi pada pertumbuhan zamannya. Sebuah konsepsi seduluran massif. Hampir tak bisa ditawar-tawar. Sebuah penyatuan berbagai konsepsi seduluran, seperti Cina, Arab dan Madura. Meskipun, Madura secara intrinsik juga terbangun dalam konsepsi seduluran Cina dan Arab.
Sintesis perjuangan arek adalah perlawanan naturalistik dan komunal. Pijakan naturalistiknya sangat erat dengan kondisi alam yang penuh tantangan di masa lalu. Inilah yang membedakannya dengan kebudayaan-kebudayaan lain di Nusantara. Daya juang yang tumbuh dalam manusia Arek adalah kemampuannya menempatkan diri secara simultan. Tidak gradual seperti dalam masyarakat Jawa pada umumnya dan kebudayaan yang banyak dipengaruhi kebudayaan Jawa maupun Sunda dan Melayu.
Satu hal lagi, adalah militansi. Arek bukan manusia yang mudah menyerah oleh keadaan apapun. Perbedaan mendasar sesungguhnya terjadi sepanjang tahun 1037-1468 Masehi atau selama 431 tahun, terutama setelah tercatatnya aktivitas gunung Kelud yang mengalirkan lahar dinginnya melalui sungai Brantas, ”… dalam waktu mana diperkirakan telah terjadi letusan gunung Kelud 431:20=22 kali, berturut-turut telah tertutup Bengawan antara Jagir dan Waru, lalu Bengawan antara Taman dan Waru, dan Bengawan Terung antara Jeruk Legi dan Taman” (Sugiyarto; dalam Wiwik Hidayat, 1975: 60).
Memasuki abad 20 hingga abad Millenium ini, Arek mengalami tafsir yang cenderung logosentrik. Arek adalah 1945, adalah hari pahlawan, adalah Suroboyo dan seterusnya. Terjadi penyempitan ruang yang sedemikian rupa membuat Arek mengalami kontaminasi historis. Artifisialitas geneologis dari sejumlah perilaku yang disepadankan dengan masa kini. Masa kini Arek adalah masa kini kultural yang terbentuk dari persenyawaan antara berbagai kultur yang tumbuh bersamanya. Meminimalkan salah satunya, adalah menjerumuskannya pada simplifikasi peradabannya sendiri. Inilah yang sedang terjadi dan sebaiknya direkonstruksi kembali.
Rekonstruksi kultur Arek adalah membuka seluruh pintu gerbang keberadaannya. Menerima secara sadar dan terbuka terhadap unsur-unsur pembentuknya. Bukan mempertahankan diri pada situasi kekinian yang telah mengalami kontaminasi historis. Kontaminasi historis ini juga berakibat pada rendahnya pemahaman generasi masa kini terhadap konteks sosio-kultural Arek. Yakni, masyarakat kampung dengan segala pandangan keterbelakangannnya. Kekumuhan dan ketidakberdayaan disimplifikasi pada kampung.
Masyarakat kampung, bukan masyarakat yang terstratifikasi seperti sekarang ini. Tetapi adalah masyarakat baru yang terbentuk dari pembenahan moralitas dan disiplin Hindu-Jawa. Jika ingin ditarik lebih jauh, maka masyarakat kampung adalah pembentuk jiwa, ideologi dan pengetahuan yang selalu dikesampingkan dalam memahami Kultur Arek. Akibatnya, Arek menjadi ilusi masa lalu.
Arek dan kampung adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Melalui dinamika kampung, Arek tersublimasi menjadi sebuah gerakan bersama. Pelabuhannya adalah integrasi sosial yang mampu menyederhanakan problematika berkehidupan di tengah-tengah masyarakat. Penyederhanaan ini bisa dimaknai sebagai pemberian nuansa ketenteraman, keselamatan dan keguyuban. Disinilah kebiasaan-kebiasaan dikembangkan menjadi tradisi maupun sebagai pengetahuan antar masyarakat dalam kultur Arek.

Autar Abdillah, staf pengajar jurusan Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya. Sedang menulis Disertasi tentang Perbandingan Diskursus budaya Arek dan Mataraman pada Program Doktor Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya
Dimuat di majalah Seni dan Budaya "ALUR" Dewan Kesenian Surabaya
Edisi 001/Januari 2012

Kamis, 22 Desember 2011

Pembelajaran Pantomime Anak Usia Dini dan TK

Oleh Autar Abdillah S.Sn., M.Si




I.Sekilas Sejarah Pantomime
Pantomime diperkenalkan di Inggris sebagai sebuah pertunjukan hiburan untuk bersenang-senang. Pantomime bermula dari Commedia dell’Arte atau Komedi Seni di Italia. Pada Komedi Seni ini yang tumbuh pad 1550-an ini merupakan sebuah reaksi politik yang tidak memungkinkan pertunjukan dengan menggunakan terlalu banyak kata-kata, terutama kata-kata yang bermakna politik dan yang tidak memberikan kontribusi pada syiar agama. Komedi seni ini menjadi sangat penting, karena memberikan kesempatan berimprovisasi dengan berbagai hal yang sedang actual –tentunya tidak menyinggung masalah politik dan kekuasaan.

Pada masa komedi seni ini digunakan topeng untuk menyembunyikan wajah pemain –disamping menambah kesan lucu. Sedangkan pada panto-mime, wajah tidak lagi menggunakan topeng, tapi dilukis maupun diberi aksentuasi secara langsung (atau di-make-up). Memasuki akhir abad 19 hingga saat ini, Pantomime semakin popular dan ditujukan untuk anak-anak, baik di Inggris maupun di Australia, Kanada, Amerika, Jepang (Tokyo Mime City) dan kini di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Di Indonesia, pantomime tidak terlalu berkembang, karena kurangnya pertunjukan-pertunjukan yang diselenggarakan. Di Jakarta dikenal nama-nama seperti Septian dan Didi Petet. Di Yogyakarta seorang tokoh pantomime yang masih aktif, seperti Jemek Supardi.

Performance Masks by Alyssa Ravenwood

Bagaimanapun juga, pantomime merupakan pertunjukan kreatif yang didukung oleh kemauan dan kemampuan untuk menjelmakan peran-peran tertentu tanpa harus berkata-kata. Atau, pantomime merupakan seni “bercerita” dengan menggunakan gerak dan emosi, tanpa berkata-kata. Unsur-unsur komedian sebagai peninggalan Commedia dell’arte dan tujuan-tujuan untuk memberikan hiburan, melekat dalam proses maupun pertunjukan pantomime. Namun demikian, proses-proses mendasar dalam pantomime, terutama yang berkaitan dengan persiapan tubuh dan daya imajinasi sangat diperlukan. Hal ini tentu bukan berarti bahwa pantomime sesuatu yang sulit. Pantomime dapat menjadi mudah, jika dalam prosesnya kita benar-benar menyadari proses kreatif dan langkah-langkah persiapan yang sesuai dengan kebutuhan pertunjukan pantomime itu sendiri. Berikut beberapa langkah proses kreatif yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk meulai sebuah proses pantomime.

Proses Kreativitas

Memasukkan Mengalami serangkaian Terus diperluas dan diperdalam

Data Panca Indera

Merasakan Menghayati segala Mendengarkan suara batin

Yang dirasakan tubuh dengan kepekaan yang tinggi

Membayangkan Menyadari berbagai Bayangan muncul dan

bayangan berinteraksi secara bebas

Mengejawantahan Mengejawantahkan Gerakan menuju metafora

Perasaan bayangan

Ke dalam gerak

Pembentukan Memadukan segala Pembentukan secara intuitif

Pengalaman batin dari curahan perasaan

(Hawkins, 2003: 88)

Proses kreatif Hawkins ini memang sangat umum. Untuk itu, perlu dutegaskan beberapahal. Dalam proses kreatif, seseorang didorong untuk memasukkan sejumlah data yang diperlukan dalam proses kreatif. Data tersebut diserap oleh panca indera dalam kehidupan sehari-hari maupun melalui sebuah upaya yang bersifat khusus, yakni melalui sebuah proses latihan. Semua data itu, kemudian dikembangkan dan diperdalam. Proses selanjutnya adalah merasakan, bahwa semua data yang masuk dihayati oleh seluruh tubuh. Tubuh membangun kepekaan secara menyeluruh dan semakin lama semakin tinggi. Tubuh benar-benar merasakah semua data atau sebagian data yang dianggap penting dalam keberlangsungan proses kreatif yang dijalani.

Kemudian seseorang keluar membangun bayangan maupun mengembangkan imajinasi yang dimilikinya. Dalam proses ini, kesadaran sangat penting dalam mengolah bayangan, sehingga bayangan tersebut dapat berinteraksi dengan dirinya secara bebas. Pengertian secara bebas disini adalah adanya kepedulian dan keinginan untuk menangkap semua bayangan tanpa ada yang menghalangi. Suasana batin sangat menentukan proses ini. Dalam kondisi ini dilanjutkan dengan melakukan pengejawantahan atau perwujudan. Bayangan yang sudah berproses dialirkan ke dalam berbagai kemungkinan gerak. Bergeraklah sesuai dengan kemampuan menangkap atau menghayati bayangan. Buatlah metafora-metafora yang melalui pengejawantahan yang “masuk akal”atau dapat dipahami secara umum dalam interaksi sehari-hari alias tidak “menganeh-aneh”.

Selanjutnya masuk dalam pembentukan. Pembentukan merupakan hasil seleksi dari sekian proses yang sudah berlangsung. Pengalaman batin maupun pengalaman sosial, kehidupan sehari-hari maupun konstruksi bayangan yang sudah ditemukan itu memerlukan intuisi dari seseorang dalam menemukan arena melalui media yang tersedia. Perasaan menjadi penting karena dalam pembentukan ini ada ruang-ruang, ada ide-ide hingga pengalaman hidup yang diharapkan dapat melakukan kombinasi secara dunamis.



II.Pantomime Usia Dini
Pantomime bagi anak usia dini merupakan perpanjangan tangan dari pertumbuhan ekspresi anak. Sejak lahir, anak-anak belajar berekspresi dari lingkungannya. Upaya yang dilakukan anak-anak pada usia dini, berkaitan erat dengan pertumbuhan fisik dan genetika yang dimilikinya. Secara fisik, anak-anak lebih menggunakan tangisan untuk memberitahukan pada orang lain, segala sesuatu yang dirasakannya kurang senang, rasa sakit, haus maupun lapar. Sedangkan secara genetika, anak pada usia ini mengikuti lebih besar sifat-sifat yang dimiliki kedua orangtuanya.

Pembelajaran Pantomime bagi anak usia dini sangat berkaitan dengan membangun kesadaran diri, physicalization (mengembangkan pertumbuhan fisik anak), bekerja kooperatif, dan tentu saja, akting. Untuk itu, pemusatan perhatian pada kondisi anak menjadi hal utama. Anak-anak sebaiknya mengalami proses pengkondisian, merasa senang, dan memiliki kebebasan memilih serta mampu mencerna proses yang akan dijalankan. Asosiasi- asosiasi anak atau bayangan-bayangan visual anak menjadi salah satu titik tolak untuk mendorong anak mengenal lebih jauh bentuk visual dari orang dewasa. Objektivikasi bentuk visual anak dikreasikan kembali menjadi bentuk-bentuk yang indah dan menarik. Tentunya, menarik bagi anak-anak usia dini dan indah bagi seorang guru yang melakukan kreasi. Anak-anak belum mampu mencerna keindahan dalam objek yang menarik bagi mereka.



III.Pantomime di Taman Kanak Kanak
Pada usia sekolah, misalnya dimulai pada usia playgroup atau PAUD, Pantomime dapat dibagi dalam dua bentuk, yakni pantomime yang non cerita dan pantomime yang bercerita. Pantomime yang non cerita merupakan pantomime yang hanya mempertunjukan unsure-unsur yang sederhana. Misalnya, berlari atau berkejaran, berjalan-jalan, bertepuk tangan gembira ketika membayangkan atau mengimajinasikan suatu peristiwa yang menakjubkan. Sedangkan pantomime bercerita dapat merupakan suatu permainan pantomime yang mengikuti suatu cerita tertentu. Misalnya, cerita seorang anak yang terlambat ke sekolah, bisa pula cerita rakyat, dan cerita yang popular, seperti Cinderella, Pinokio, atau Si Kancil, Si Belalang, Berkebun dan sebagainya.

Karakter di masing-masing Taman kanak-kanak jelas berbeda. Demikian pula dengan kemampuan anak didik dalam menyerap proses berpantomime ini. Namun, satu hal yang dapat ditemukan kesamaannya adalah dunia bermain anak-anak yang menginginkan dan mampu membangun empati terhadap setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Anak-anak TK justru memiliki kemampuan empati saat mereka melakukan interaksi. Mereka akan turut sedih jika temannya menangis, meskipun tangisan itu disebabkan oleh dirinya sendiri. Pola interaksi ini cukup unik pada dunia anak TK, karena mereka belum menyadari hubungan sebab akibat dari suatu peristiwa. Untuk itu, dalam pantomime ini, narasi kelucuan dan hiburan sangat memungkinkan dihidupkan melalui pola interaksi yang terdapat pada anak-anak, bukan pada “pandangan” orang dewasa.



IV.Langkah-langkah Pembelajaran dan Pelatihan
a.Pemanasan dan Pelemasan
1.Berlari-lari kecil di tempat
2.Menggerakkan kepala:
- Menekan kepala ke depan dank e belakang

- Menekan kepala ke kiri dank e kanan

- Menoleh ke kiri dank e kanan

- Memutar kepala dan diulangi dengan arah sebaliknya

3.Menggerakkan bahu
- Menggerakkan bahu ke atas dank e bawah

- Menggerakkan bahu ke depan dank e belakang

- Memutar bahu

4.Menggerakkan tangan hingga jari jemari
- Menggerakkan pergelangan tangan

- Menggerakkan jari jemari

5.Menggerakkan pinggul
- Menggerakkan ke kiri dank e kanan

- Menggerakkan ke depan dank e belakang

- Memutar pinggul

6.Menggerakkan lutut
- Menggerakkan ke kiri dank e kanan

- Menggerakkan ke depan dank e belakang

- Memutar lutut

7.Senam Wajah
- Menggerakkan alis mata

- Menggerakkan pelupuk mata

- Menggerakkan kening

- Menggerakkan mulut

- Menggerakkan pipi

8.Kembali berlari-lari kecil di tempat sambil bertepuk tangan
9.Menghela napas


b.Imajinasi Benda
1.Membayangkan penggunaan benda-benda di sekitar, seperti gelas, kursi, kayu, batu, dan lain-lain
2.Menggunakan benda-benda itu dengan menyesuaikan bentuk dan berat benda serta penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari
3.Menyadari kadar tekanan, bawaan maupun interaksi benda dengan tubuh. Misalnya: interaksi bola yang melambung berbeda dengan tali yang ditarik
c.Eksplorasi Emosi dan Perilaku
1.Menentukan berbagai bentuk emosi: marah, menangis, tertawa, ngambek, terkejut, takut, ngeri dan sedih
2.Memberikan arahan tentang peristiwa emosi yang akan dilakukan
3.Melakukan dan membentuk perilaku emosi secara bergantian
4.Mempertemukan (berpasangan) bentuk-bentuk emosi
d.Mencipta Bentuk
1.Bentuk dasar (perhatikan pergerakan tubuh)
i.Berjalan
ii.Memegang benda
iii.Mengangkat benda
iv.Menarik benda
v.Menekan sesuatu (bisa dinding, tubuh temannya dan benda lainnya)
vi.Melempar
2.Bentuk imajinatif
i.Berjalan sambil melambaikan tangan
ii.Memegang sambil membayangkan benda-benda, seperti gelas, tas, bola
iii.Mengangkat sesuatu yang ada dalam bayangan anak-anak
iv.Menarikdan saling menarik satu sama lainnya
v.Menekan maupun bersandar pada suatu objek
vi.Melempar sesuatu ke arah yang diinginkan
e.Membuat Cerita/Narasi
1.Narasi dapat berupa cerita sehari-hari maupun dari legenda
2.Narasi dibuat sederhana dengan tokoh-tokoh/peran yang sederhana. Misalnya, Kancil yang licik, Anak yang rajin
3.Mulailah dengan sebuah cerita agar anak-anak dapat membangun imajinasi peristiwa maupun dapat mengembangkan dan menyesuaikannya dengan pengalaman yang ditransformasikannya.
f.Make-up dan Kostum
1.Make-up dan kostum berguna untuk mempertegas peran yang dimainkan
2.Make-up dan kostum akan lebih baik jika mampu mendorong gerak yang sesuai dengan peran
3.Kemampuan melakukan peran-peran tertentu dapat mengubah make-up dan kostum menjadi bagian yang sekunder.


V.Memulai dengan Keyakinan
Pertanyaan yang sering muncul ketika memulai sesuatu adalah bagaimana cara memulainya. Dalam proses kreatif, dikenal adanya motif. Motif akan menjadi titik tolak seseorang untuk memulai suatu proses. Motif merupakan titik sasaran seseorang dalam bertindak. Maka, mulailah denga menentukan motif Anda memulai sesuatu. Misalnya motif memberdayakan anak didik, memberdayakan diri sendiri, pergaulan, menumbuhkan rasa ingin tahu, ingin belajar dan sebagainya. Motif-motif ini akan menentukan tindakan seseorang dalam proses kreatif. Semakin baik motif yang dipilih, maka semakin tinggi pula upaya yang dilakukan dan semakin baik pencapaian dari motif tersebut.

Motif yang dimiliki, selanjutnya diikuti dengan niat dan kemauan untuk menjalankannya sebaik mungkin. Ikutilah tahap demi tahap dari proses kreatif dan ikuti pulalah kemauan keras untuk dapat menjalaninya. Bisa dilakukan dengan proses belajar dan melakukan eksplorasi terus menerus. Dalam proses kreatif, selalulah berpikir positif. Kenali dan perdalamlah semua temuan yang muncul dalam pikiran maupun perasaan. Berdiskusilah dengan setiap temuan maupun setiap upaya yang dilakukan agar temuan itu mampu menjadi sebuah hasil yang lebih baik. Sebagai sebuah pertunjukan, pantomime sangat memperhatikan aspek-aspek daya tarik, daya juang, kerjasama, sinergi, dan penyelesaian yang konstruktif-dinamis.

Lakukan, lakukan dan lakukan. Bereksplorasi dengan kebebasan penuh. Tataplah semua kemungkinan agar menjadi kenyataan. Selamat mencoba dan selamat bekerja…

Rabu, 21 Desember 2011

Kultur Arek

Autar Abdillah

Arek adalah sintesis perjuangan. Sebuah karakter yang berkodefikasi kultural. Tapi bukan etnosentristik. Terbentuk dari alam yang keras, penuh bencana dan berkontribusi pada pertumbuhan zamannya. Sebuah konsepsi seduluran massif. Hampir tak bisa ditawar-tawar. Sebuah penyatuan berbagai konsepsi seduluran, seperti Cina, Arab dan Madura. Meskipun, Madura secara intrinsik juga terbangun dalam konsepsi seduluran Cina dan Arab.
Sintesis perjuangan arek adalah perlawanan naturalistik dan komunal. Pijakan naturalistiknya sangat erat dengan kondisi alam yang penuh tantangan di masa lalu. Inilah yang membedakannya dengan kebudayaan-kebudayaan lain di Nusantara. Daya juang yang tumbuh dalam manusia Arek adalah kemampuannya menempatkan diri secara simultan. Tidak gradual seperti dalam masyarakat Jawa pada umumnya dan kebudayaan yang banyak dipengaruhi kebudayaan Jawa maupun Sunda dan Melayu.
Satu hal lagi, adalah militansi. Arek bukan manusia yang mudah menyerah oleh keadaan apapun. Perbedaan mendasar sesungguhnya terjadi sepanjang tahun 1037-1468 Masehi atau selama 431 tahun, terutama setelah tercatatnya aktivitas gunung Kelud yang mengalirkan lahar dinginnya melalui sungai Brantas, ”… dalam waktu mana diperkirakan telah terjadi letusan gunung Kelud 431:20=22 kali, berturut-turut telah tertutup Bengawan antara Jagir dan Waru, lalu Bengawan antara Taman dan Waru, dan Bengawan Terung antara Jeruk Legi dan Taman” (Sugiyarto; dalam Wiwik Hidayat, 1975: 60).
Memasuki abad 20 hingga abad Millenium ini, Arek mengalami tafsir yang cenderung logosentrik. Arek adalah 1945, adalah hari pahlawan, adalah Suroboyo dan seterusnya. Terjadi penyempitan ruang yang sedemikian rupa membuat Arek mengalami kontaminasi historis. Artifisialitas geneologis dari sejumlah perilaku yang disepadankan dengan masa kini. Masa kini Arek adalah masa kini kultural yang terbentuk dari persenyawaan antara berbagai kultur yang tumbuh bersamanya. Meminimalkan salah satunya, adalah menjerumuskannya pada simplifikasi peradabannya sendiri. Inilah yang sedang terjadi dan sebaiknya direkonstruksi kembali.
Rekonstruksi kultur Arek adalah membuka seluruh pintu gerbang keberadaannya. Menerima secara sadar dan terbuka terhadap unsur-unsur pembentuknya. Bukan mempertahankan diri pada situasi kekinian yang telah mengalami kontaminasi historis. Kontaminasi historis ini juga berakibat pada rendahnya pemahaman generasi masa kini terhadap konteks sosio-kultural Arek. Yakni, masyarakat kampung dengan segala pandangan keterbelakangannnya. Kekumuhan dan ketidakberdayaan disimplifikasi pada kampung.
Masyarakat kampung, bukan masyarakat yang terstratifikasi seperti sekarang ini. Tetapi adalah masyarakat baru yang terbentuk dari pembenahan moralitas dan disiplin Hindu-Jawa. Jika ingin ditarik lebih jauh, maka masyarakat kampung adalah pembentuk jiwa, ideologi dan pengetahuan yang selalu dikesampingkan dalam memahami Kultur Arek. Akibatnya, Arek menjadi ilusi masa lalu.
Arek dan kampung adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Melalui dinamika kampung, Arek tersublimasi menjadi sebuah gerakan bersama. Pelabuhannya adalah integrasi sosial yang mampu menyederhanakan problematika berkehidupan di tengah-tengah masyarakat. Penyederhanaan ini bisa dimaknai sebagai pemberian nuansa ketenteraman, keselamatan dan keguyuban. Disinilah kebiasaan-kebiasaan dikembangkan menjadi tradisi maupun sebagai pengetahuan antar masyarakat dalam kultur Arek.

Autar Abdillah, staf pengajar jurusan Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya. Sedang menulis Disertasi tentang Perbandingan Diskursus budaya Arek dan Mataraman pada Program Doktor Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya

Senin, 21 November 2011

Upaya Mengembangkan Kesenian daerah dan Tantangannya

Oleh Autar Abdillah

Pengantar
Sudah lebih empat puluh tahun kita berbicara soal mengembangkan kesenian daerah. Tapi, mengapa belum selesai-selesai juga. Apa yang salah dalam hal ini? Sekedar ilustrasi dan mengingatkan kembali pada upaya mengembangkan kesenian daerah ini: Pada era 1970-an, semua kesenian daerah atau seni-seni tradisi yang ada di Indonesia, diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan keseniannya. Disamping presentasi atau mempertunjukkan karya-karya seni daerah, juga dibuatkan buku hasil-hasil diskusi yang terjadi selama apa yang kemudian disebut “Pesta Seni” itu. Setelah sepuluh tahun, pada 1980-an, dibuatkan semacam resume yang hasilnya adalah “mempertimbangkan tradisi”. Tradisi dipandang harus diterjemahkan kembali ke dalam zamannya, tradisi harus diperbaharui, tradisi harus diisi dengan semangat baru, tradisi “bahkan’ harus “disulap”, tradisi harus dimasukkan dalam “salon-salon kecantikan’. Dengan tegas, Umar Kayam menyatakan bahwa “Seni tradisional tidak akan mampu sama sekali membuat dirinya cukup lentur dalam mengimbangi perkembangan zamannya” (1981: 63)
Tentu, para seniman tradisi sertamerta melakukan “perlawanan”. Tapi bukan pembangkangan atau mereka tetap mengikuti apa yang diinginkan pemerintah sebagai penyelenggara “pembaharuan tradisi”. Mereka yang baru saja pulang dari bersekolah di Amerika, memandang bahwa kesenian tradisi (baca juga kesenian daerah) harus mampu melakukan transaksi “jual-beli” dengan zamannya, dengan penikmatnya atau dengan –meminjam istilah almarhum Umar Kayam, para maecenas-maecenas. Tapi, disisi lain tetap membangun jargon seni adalah tontonan-tuntunan. Sebuah ambiguitas atau kemenduaan yang belum ditemukan jalan keluarnya.
Dalam sepuluh tahun terakhir ini, kesadaran melakukan transaksi perdagangan seni sudah tak terbendung. Tidak ada lagi kesenian dan seniman yang mau tampil tanpa transaksi yang tegas dan jelas, hitam diatas putih. Di sisi lain, kita menemukan upaya melakukan berbagai komparasi atau perbandingan perkembangan kesenian dan kebudayaan –terutama Bali dan Jepang, yang dianggap berhasil mengendalikan isu-isu, tabiat dan khazanah seni daerah atau tradisi mereka. Kesenian dan kebudayaan daerah dianggap mampu memberikan kontribusi terhadap tatanan kehidupan masyarakatnya secara umum.

Konsep Dasar
Mengembangkan kesenian daerah adalah menghidupkan zaman yang sedang tumbuh, bergerak, hidup, lentur dan berkarakter secara terintegratif. Tidak ada yang mampu memisahkan dirinya dalam perjalanan zaman yang berkompetisi secara massif dengan seluruh tatanan sosial yang tersedia. Pola asah, asih dan asuh yang menjadi titik tolak pengembangan seni daerah adalah kesempatan mengasah, mempertajam segala kemampuan diri pelaku seni untuk dapat bertahan hidup, survival of fittest. Memilih kesenian daerah bukan pilihan untuk bunuh diri.
Seni daerah adalah investasi masa depan bagi seluruh hajat hidup dan kemaslahatan umat manusia. Untuk itu, seni-seni daerah digali, dieksplorasi dan diterjemahkan dalam ruang dan waktu zamannya. Seni-seni daerah bukanlah barang mati yang tidak bisa bersentuhan dengan zamannya. Seketat apapun seni-seni daerah, proses inovasi tetap terbuka. Perlu penyegaran warna, bentuk, pola ucap, kesan hingga komunikasinya denga masyarakat yang baru, dengan kebudayaan yang baru, dan tentu dengan manusia-manusia baru yang memiliki berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan.

Metode Pelatihan dan Pentahapan
Sebagaimana pendahulu kita menemukan kesenian, maka beberapa metode pelatihan sekaligus pentahapan eksploratifdalam pengembangan seni daerah adalah sebagai berikut:
1. Melakukan identifikasi terhadap potensi-potensi seni daerah yang ada. Apa saja yang sedang tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Lakukan penyerapan dan pengeksplorasian terhadap potensi seni yang merupakan bagian dari potensi berkehidupan dalam masyarakat. Kepekaan adalah kata kunci untuk melakukan penemuan.
2. Madura adalah masyarakat lama (tua) yang memiliki khazanah kebudayaan maupun kesenian yang sangat beragam. Secara historis maupun antropologis terdapat sumber-sumber inspiratif yang belum tergali sepenuhnya. Untuk itu perlu dilakukan pemilihan prioritas eksploratif. Dapat dimulai dengan memainkan, membunyikan maupun menggerakkan aspek-aspek ketubuhan yang paling asali atau yang paling “primitif” yang merupakan akar kebudayaan manusia Madura, khususnya Sampang. Eksplorasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan media dari sumber-sumber instrumen yang ada, sumber-sumber gerak yang ada untuk menemukan kembali sumber kehidupan yang tersedia.
3. Untuk membuka proses kreatif yang spesifik, dapat dibuat kelompok-kelompok kecil yang mendiskusikan dan mengolah kembali proses kreatif yang pernah ada dan yang mungkin bisa dikembangkan. Kelompok-kelompok kecil ini sebaiknya diefektifkan agar terbuka dialog yang lebih kondusif dan menemukan kekuatan baru dalam proses kreatif.
Metode pelatihan diatas dapat dilakukan secara terencana dan mebutuhkan waktu yang cukup dan dengan ketenangan yang memadai agar seseorang dapat membuka diri terhadap proses kehidupan yang dijalaninya.

Tantangan
Upaya mengembangkan seni daerah bukan tidak memiliki tantangan yang besar. Tantangan itu bisa berasal dari birokrasi pemerintah, bisa oleh kelompok-kelompok seni, sosial maupun keagamaan hingga dunia pendidikan yang tidak kondusif. Birokrasi pemerintah terkadang kurang melakukan pendekatan yang dapat merangsang tumbuhnya seni-seni daerah, karena objek operasional birokrasi pemerintah lebih kepada pencapaian keuntungan bagi penghasilan asli daerah (PAD). Seni-seni daerah belum menjadi bagian investasi jangka panjang bagi pembangunan daerah.
Umar Kayam mengakui bahwa seni-seni tradisional atau seni-seni daerah sulit memasuki modernisasi dan proses integrasi-nasional karena posisinya yang bertolak belakang. Untuk itu, kelompok-kelompok seni, sosial maupun keagamaan harus bersatu menghadapi kekuatan- kekuatan yang merongrong instabilitas dalam kehidupan berkesenian itu sendiri. Sedangkan dunia pendidikan dapat menjadi media yang mampu melakukan kajian-kajian terhadap kemungkinan terbukanya proses berkesenian bagi seluruh pelaku seni-seni daerah.
Disamping itu, mindset dan starting point dalam membangun kesenian saat ini semakin kabur karena ambiguitas zaman maupun kebijakan-kebijakan yang tumbuh dalam memahami seni-seni daerah. Hal ini semakin mengaburkan pula penemuan output dan input pengembangan seni daerah. Terdapat tiga pola yang dapat dikembangkan secara gradual. Ketiga pola itu adalah seni daerah yang mampu didukung oleh Pemerintah, didukung oleh komunitas dan didukung oleh dunia komersial.
Ketiga pola diatas belum menjadi titik tolak dalam pengembangan seni-seni daerah karena belum terdapat pola kebijakan yang bersifat holistik dari masing-masing daerah atau lembaga-lembaga yang memiliki kewenangan dalam pengembangan seni-seni daerah. Masing-masing lembaga masih bekerja untuk dirinya sendiri dan belum memosisikan dir secara terintegratif sesuai kebutuhan masyarakat seni daerah yang seharusnya dikelola.

Penutup
Demikianlah gambaran singkat Saya untuk memulai diskusi atau workshop yang mungkin menjadi berarti jika kita membuka seluruh kemungkinan untuk hidup berdampingan dengan tetap memelihara kepercayaan kita terhadap apa yang kita inginkan: mengembangkan kesenian daerah yang bermanfaat bagi manusia yang hidup dalam zamannya. Skema pengembangan seni daerah kota Bandung akan menjadi sampel diskusi dan dibreakdown lebih jauh dalam diskusi ini. Selamat Berdiskusi….

Surabaya, 19 November 2011

Daftar Bacaan

Abdillah., Autar, 2007a, Budaya Arek Suroboyo, Tesis S-2, Surabaya: Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya (belum diterbitkan)

¬____________, 2007b, ”Perjalanan Panjang Budaya Arek”, Surabaya: Jawa Pos, Selasa, 30 Oktober 2007 (Opini Metropolis) hal. 32

____________, 2009a, “Inovasi Pertunjukan Teater Tradisional Ludruk di wilayah Budaya Arek”, Jurnal Seni Buaya Mudra, volume 24 No. 1 Januari 2009, Denpasar: ISI Denpasar, hal. 18-28

____________, 2009b, ”Budaya Arek”, Surabaya: Kidung, 2009

____________, 2010, ”Budaya Arek Suroboyo”,Sarasehan Budaya Arek Suroboyo, 13 November 2010 di PUSURA (Putra Surabaya)

Geertz., Clifford, 1992, Tafsir Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius

Kayam., Umar, 1981, Seni, Tradisi, Masyarakat, Jakarta: Penerbit Sinar Harapan
Peacock., James L., 2005, Ritus Modernisasi, Aspek Sosial dan Simbolik Teater Rakyat Indonesia, (judul asli: Rites of Modernization, Symbolic and Social Aspects of Indonesian Proletarian Drama, 1968, Chicago: The University of Chicago, penerjemah: Eko Prasetyo), Depok: Desantara